Latest News

Showing posts with label Refleksi Politik. Show all posts
Showing posts with label Refleksi Politik. Show all posts

Thursday, December 20, 2018

Bagi saya, Jokowi sudah seperti anak saya sendiri. Saya sangat mencintainya.


Testimoni B.J. Habibie mengenai Presiden Jokowi dalam buku Menuju Cahaya:

= Ia Teguh di dalam Niat Baik =

Saya mengamati gerak juang Presiden Jokowi dan saya akui saya kagum kepadanya. Sebagai orang yang juga pernah memegang tampuk kepemimpinan tertinggi di Indonesia, saya tahu, tidak mudah memimpin Indonesia. Negeri kita memiliki persoalan yang kompleks di berbagai bidang: politik, ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial, dan sebagainya. Banyak sekali pekerjaan rumah yang tak terselesaikan dan senantiasa menjadi tantangan berat bagi Presiden Republik Indonesia.

Tapi, Jokowi dengan sangat tenang membuat strategi yang cerdas dan mengurai satu per satu permasalahan di negeri ini. Jelas tidak mudah. Tapi, ia konsisten dan penuh komitmen melakukan niat baiknya. Dengan teguh, ia laksanakan apa yang menurutnya akan menjadi hal terbaik bagi rakyat Indonesia dan ia buktikan itu dengan proses yang penuh kesabaran.  Ia begitu banyak melakukan perjalanan ke daerah untuk memastikan semua proyek dan program pemerintah bagi rakyat bisa terselesaikan dengan baik. Ia memastikan segalanya ada di rel yang baik.

Sepanjang itu, ia digempur oleh kritikan, caci maki, dan penghinaan. Tapi, inilah hebatnya, ia tetap teguh berjalan dan mampu menahan diri. Ia mampu mengelola emosinya sehingga segala serangan itu tidak mengubah diri dan niat baiknya. Ia hadapi keadaan yang tajam dan penuh guncangan itu dengan kesabaran yang luar biasa. Kerja keras, niat baik, dan kesabaran adalah ciri kepemimpinan Jokowi yang sangat menonjol. Indonesia di dalam kepemimpinannya sedang dibawa menuju arah yang baik. Oleh sebab itu, saya setuju buku ini diberi judul  Menuju Cahaya. Ya, kita memang sedang diajak melangkah menuju terang.

Tantangan berat di depan nanti adalah bagaimana membangun manusia Indonesia yang tangguh di dalam alam kemajuan yang sangat agresif dan mengelola kekayaan alam nusantara agar mampu menyejahterakan rakyat secara adil. Saya yakin, Jokowi akan sanggup menciptakan hal-hal indah dan mengagumkan bagi negeri ini. Sebagai mantan Presiden Republik Indonesia dan bagian dari rakyat Indonesia, saya berterima kasih memiliki presiden seperti dirinya.

Bagi saya, Jokowi sudah seperti anak saya sendiri. Saya sangat mencintainya.
BJ.Habibie

ANAK IDEOLOGIS ITU JAUH LEBIH BAIK DARI ANAK BIOLOGIS !


Ir.  KPH.  Bagas Pujilaksono WIDYAKANIGARA,  M. Sc.,  Lic. Eng.,  Ph. D.
UNIVERSITAS GADJAH. MADA, Yogyakarta


Kepada Yth,
Rakyat Indonesia
Di Nusantara

Hal: Playing the Victim

Dengan hormat,
Sebagai akademisi UGM,  saya sangat perihatin melihat totonan di panggung politik di tanah air jelang Pilpres dan Pileg 2019 yang kebanyakan tidak berkualitas dan tidak mendidik sama sekali.  Saya berani berspekulasi,  bahwa cara-cara seperti ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang moral dan etikanya pincang yang semata hidupnya hanya untuk memburu kekuasaan.

Pelanggaran UU Pemilu adalah perbuatan kriminal.  Mustinya,  siapa saja yang terlibat atau yang merasa dilibatkan,  membawa masalah ini ke ranah hukum, agar tidak menggelinding menjadi bola liar yang ujung-ujungnya hanya memfitnah pihak-pihak lain yang secara nalar sehat tidak punya kepentingan sama sekali.  Pernyataan politik dari Seorang Ketum Partai Politik tertentu yang menyebutkan pihaknya adalah bukan pesaing pak Jokowi adalah pernyataan politik yang prematur, salah alamat, sembrono dan gegabah.  Dalam hal ini, PDI Perjuangan sebagai bagian utama dari koalisi partai politik pendukung pak Jokowi, nalar sehat atau waras, PDI Perjuangan tidak punya urgensi dan kepentingan merusak atribut partai politik tertentu.  PDI Perjuangan sebagai partai besar yang perilaku politiknya bersifat ideologis, secara kelembagaan sangat menjunjung tinggi etika dan moral. Justru,  di masalalu,  fakta sejarah menunjukkan,  PDI Perjuangan yang selalu diusik keberadaannya oleh rezim yang berkuasa dan kader-kadernya diculik. Apa kepentingan dan keuntungan politik PDI Perjuangan mengusik keberadaan partai politik kelas gurem?  Tidak nalar!

Ada peribahasa jawa: nabok nyilih tangan yang artinya perbuatan jahatnya dilakukan dengan cara bermain drama politik seolah-olah orang lain yang melakukannya.  Padahal yang melakukan adalah oknum. Yang namanya oknum itu tidak merepresentasikan partai politik tertentu dan tindakan kriminalnya jelas bukan atas komando partai.  Tuduhan ini adalah cara-cara jahat dan pengecut. Pengerusakan atribut partai politik tertentu adalah pelanggaran UU Pemilu dan perbuatan kriminal yang harus ditindak tegas. Bukan malah dipolitisir dengan menyuruh badut politiknya untuk menyalak-nyalak melempar fitnah keji, bahwa tindakan pelakunya atas komando partai politik tertentu.  Tujuannya jelas untuk merusak citra partai politik tersebut.  Sebenarnya ini hanya bentuk kepanikan dari Ketum Partai Politik tersebut,  karena dari hasil beberapa survey,  partainya tenggelem di bawah ambang batas parlemen (parlement threshold). Rakyat sudah cerdas dan bijak dalam memilih.  Tenggelamnya partai politik tersebut dikarenakan banyaknya kader-kader elit partai politiknya yang terlibat korupsi di masalalu.  Ini fakta,  mau mengelak?  Jika partai politik tersebut betul-betul tenggelam di 2019, maka masadepan anak-anaknya akan gelap gulita.  CAKRA MANGGILINGAN!  Pak Ketum itu hanya bermain kata-kata: demi rakyat,  untuk rakyat..salah. Yang benar demi isteri dan anak-anaknya.  Anak itu tidak usah dimanjakan,  direkayasa jadi ini, dan jadi itu.  Biarkan anak mencari masadepannya sendiri.  Anak tidak harus melewati jalan yang sama dengan orang tuanya.  Pemimpin macam apa yang bisa diharapkan dari anak yang belum selesai menthil emaknya?  Biarkan anak dewasa dengan dirinya sendiri dan menjadi dirinya sendiri. Itu jauh lebih baik dan terhormat.  Lebih-lebih,  negeri ini bukan milik nenek moyangnya,  jadi cara-cara pemunculan putra mahkota karbidtan sudah tidak laku lagi. ini tontonan comberan macam apa?  ANAK IDEOLOGIS ITU JAUH LEBIH BAIK DARI ANAK BIOLOGIS!  Apalagi cara-cara yang ditempuh masih dengan modus lama, betapa bodohnya negarawan ini yang konon ngakunya ahli strategi.  Strategi macam apa?  Strategi comberan!  Politik itu dinamis,  suatu cara efektif di masalalu,  belum tentu efektif di masa sekarang,  karena variabel yang berpengaruh banyak.  Jadi nggak perlu Playing the Victim dengan cara memposisikan sebagai orang yang didholimi atau pakai acara nangis segala.  Memalukan! Hebatnya,  pak Ketum ini kalau ngomong gayanya menggurui,  dia pikir orang Indonesia itu goblog-goblog semua,  dan selalu memposisikan sebagai orang yang serba tahu,  padahal faktanya dalam banyak hal dia tidak tahu apa-apa.  Saran saya,  pak Ketum segera lapor polisi,  nggak usah dilempar ke publik yang harapannya jadi bola liar untuk memfitnah banyak pihak.  Sekali lagi ini perbuatan pengecut, keji dan biadab.  Rakyat rindu munculnya pemimpin yang tampil jujur dengan wajah dan hatinya.  Bukan pemimpin yang wajahnya penuh bopeng dosa masalalu dan hatinya dengki karena dipenuhi dengan agenda politik terselubung.

Jadi partai politik kelas gurem itu tidak usah over acting dan banyak cita-cita.  NARIMO ING PANDUM!  Bijak melihat fakta politik dan cerdas dalam mensikapinya.

Mustinya kampanye diisi dengan adu program,  kalau memang punya program,  bukan malah sibuk fitnah sana fitnah sini.  Ini sungguh sangat tidak mendidik.  Kasihan rakyat, saat kampanye rakyat diobok-obok,  dan namanya selalu dicatut jadi jargon-jorgan politik: demi rakyat,  dan untuk rakyat, namun habis pemilu rakyat ditinggal.  Bohong-bohongan semua!

Apa yang bisa diharapkan dari calon pemimpin yang bisanya hanya sibuk nyebar fitnah,  nebar kebencian dan memporovokasi rakyat?  Di lain hal sangat minim dengan ide-ide cemerlang. 

Munculnya hal-hal aneh di panggung politik jelang pilpres dan pileg 2019, sebabnya hanya satu,  yaitu karena para maling,  penjahat dan koruptor negara mulai ketakutan dengan sepak terjang pak Jokowi yang sangat membahayakan keamanan uang hasil rampokannya yang disimpan di luar negeri.  Ibaratnya para monyet turun gunung,  ikut nimbrung di panggung politik di tanah air,  dengan menghalalkan segala cara,  hanya untuk menyelamatkan hartanya.  Jelas bukan?

Terimakasih.

Yogyakarta,  2018-12-18
Hormat saya,
(KPH. Widyakanigara)

Fusse Note:
Mohon rekan-rekan seperjuangan dan media,  surat terbuka ini diviralkan.  Terimakasih.

Saturday, December 8, 2018

Erick Thohir! Erick Thohir! S.O.S!



Ada kabar baru, stagnasi suara pemilih Jokowi mulai bergerak. Sayangnya, bukan naik, tapi justru turun. Saya tak peduli bagaimana kondisi Prabowo. Kalah sudah biasa baginya. Mungkin sudah jadi semacam tradisi.

Tetapi untuk Jokowi, ini jadi pertaruhan serius. Bagi orang-orang yang melihat perkembangan baik di era Jokowi, ini akan jadi kabar duka. Dari hasil pengamatan selama ini, Tim Kampanye Nasional Jokowi-Amin itu mandul.

Hasil yang tidak memuaskan itu memang akumulasi banyak hal. Namun jelas ada masalah di sana. Sebelum menjadi semakin parah, kerusakan itu harus secepatnya diperbaiki.

Tentunya, puncak kegusaran bertumpu pada nama besar Erick Thohir dan timnya. Apa yang sudah dikerjakan orang ini? Atau kita bikin sederhana saja, konsep apa yang menjadi acuan kerja mereka? Sejauh ini saya tak melihat adanya rel yang kokoh. Semuanya abstrak dan asal ngalir.

Pada titik ini, sebenarnya Jokowi benar-benar ditinggal sendiri.

Orang-orang partai itu lebih mirip benalu. Mereka menempel Jokowi, tapi tak ada timbal-balik. Barangkali ada setumpuk rencana, ribuan meeting. Namun tanpa hasil.

Pemilih loyal Jokowi hari ini adalah hasil jerih-payah Jokowi sendiri. Sisa-sia dari pancaran pamornya, yang sayangnya telah sampai puncaknya. Dengan ungkapan klise, mulai meredup. Jika boleh menyebut, mungkin ada kelompok-kelompok kecil yang tulus bekerja. Tapi mereka seperti berada di luar sistem.

Makin tergerusnya suara Jokowi mengindikasikan, mesin politiknya tak bekerja dengan baik. Sekadar mempertahankan yang ada saja tak bisa. Padahal Pilpres masih cukup lama. Jika trend ini terus terjadi, lampu merah untuk Jokowi.

Di medsos Jokowi sudah kalah. Seleb medsos pendukung Jokowi mungkin banyak, tapi hasil akhirnya tak seriuh sebelah. Tidak ada ledakan berkesinambungan. Satu energi yang konstan. Kini, trend di dunia nyata juga mengalami penurunan. Padahal sebagai incumbent, Jokowi punya hampir segalanya.

Lalu apa saja yang sudah mereka kerjakan?

Nyatanya, kelengkapan persenjataan politik itu tidak menambah efek apa-apa. Bertahan pada titik aman saja tak. Sementara saya melihat relawan masih mabuk kemenangan. Beberapa tampak bekerja. Yang lain entah menunggu apa. Sepertinya masih saling curi pandang dengan Erick Thohir. Dugaan saya, logistik belum turun.

Pilpres 2019 memang memunculkan gairah berbeda. Dulu 2014, orang-orang berjuang pro bono demi memenangkan lelaki cungkring dari Solo itu. Sekarang dalam pengamatan saya, banyak yang masuk angin. Ingin tampil paling depan, tapi tak jelas jasanya.

Pamrih ini membuat gerak mereka kurang lincah. Saling lihat dan tunggu. Kecintaan seperti dulu terhadap Jokowi, agaknya mulai luntur. Banyak yang sekadar menempel-jilat pada kue manis kekuasaan. Cita-cita demi Indonesia yang lebih baik, mulai kurang gaungnya.

Ini memang baru lampu kuning, tapi krusial sifatnya. Sebaiknya TKN itu perlu dievaluasi lagi. Mereka yang tak bisa bekerja, diberi tugas ringan saja, misalnya sibuk jual retorika di media massa. Urusan permesinan politik, serahkan pada ahlinya. TKN harus dibentuk menjadi sebuah organ solid. Orang-orang yang jelas fungsi dan kerjanya.

Kubu Jokowi-Amin agaknya masih dalam sikap nyaman dan tenang. Mereka sibuk membayangkan, nanti dapat posisi apa?

Padahal kekacauan sedang direncanakan di sebelah. Seolah memang tanpa bentuk dan ngawur. Tapi mereka terus bekerja. Mereka sebenarnya menunggu momentum untuk membuat kerusakan. Mungkin berawal dari satu kesalahan kecil. Soal kesabaran, kekalahan telah menempa mereka demikian.

Timses Prabowo memang lebih gemuk dan tampak asal pasang. Tetapi, militansi mereka jangan dipertanyakan lagi. Ingat bagaimana PKS mendoktrin jamaahnya. Belum lagi dendam kesumat Gerindra dan klan Muhamadiyahnya Amien. Bohir politik yang kecewa dengan sepak-terjang Jokowi, pastinya tak diam begitu saja.

Gerakan sekecil apapun harus diwaspadai. Terutama kesalahan dari organ sendiri. Tidak ada kelas remedial dalam kasus ini. Seperti sepenggal puisi getir Chairil, "Sekali berarti / sudah itu mati."

Ini sinyal darurat untuk Erick Thohir. Ada tanda-tanda pergeseran posisi serang di lautan. Sementara biduk yang dikendalikannya mengalami kebocoran. Sebagai nakhoda, dia harus cermat menyeleksi kelasinya, membaca arah angin dan menghitung kecukupan logistik. Tukang ngorok, doyan makan, pemalas, mestinya cepat dibuang.

Kita sedang berperang, Tuan, bukan melancong dengan kapal pesiar. Erick Thohir, Erick Thohir, S.O.S!!!

Kajitow Elkayeni

https://seword.com/politik/erick-thohir-erick-thohir-sos-i_lZYXHDX

Monday, October 8, 2018

6 Sinetron Kampanye Capres Penculik, Membodohi Warga Demi Kuasa



6 Sinetron Kampanye Capres Penculik, Membodohi Warga Demi Kuasa

By: Alifurrahman
October 3, 2018

Pilpres 2019 menjadi sebuah anomali. Jauh lebih buruk dari Pilpres 2014. Karena seorang penculik dan pembunuh berpasangan dengan penipu yang licik. Dengan segala citra dan sinetron yang dibangun, sebagian masyarakat kita akhirnya bisa dikelabuhi.

Sinetron pertama muncul saat ijtima ulama menghasilkan rekomendasi Cawapres. Dengan segala tipu daya uang berkardus-kardus, akhirnya yang dipilih adalah orang yang tidak paham sama sekali soal agama. Dengan tipu muslihatnya, semua partai ditipu. Ulama pun hanya dijadikan bedak politik. Hal ini menjadi lebih buruk ketika PKS melabeli sang Cawapres sebagai ulama. Gila!

Sinetron kedua adalah cerita bohong Bu Lia. Yang menurut cerita sang Cawapres, uang 100 ribu rupiah hanya bisa beli bawang dan cabe. Kebohongan dan propaganda ini pun membuat muak masyarakat. Sehingga masyarakat bergerak dan membuat daftar belanjaannya di sosial media masing-masing, membantah bahwa uang 100 ribu tidak hanya untuk beli bawang dan cabe.

Sinetron ketiga adalah tempe setipis ATM. Dengan segala propaganda dan kelicikan sang Cawapres, masyarakat bawah diklaim kesulitan karena tempenya sudah sangat tipis. Padahal itu hanya propaganda licik.

Sinetron keempat adalah skenario tanya jawab, seorang ibu-ibu disusupkan ke tengah-tengah warga. Dan ketika dia curhat, bahwa hanya bisa makan keong, seolah-olah itu mewakili seluruh kesulitan dan penderitaan masyarakat.

Setelah puas melakukan propaganda menyerang pemerintah, mereka kini mengubah strategi dengan menyerang diri sendiri, dengan harapan bisa mendapat simpati masyarakat.

Munculah sinetron kelima, membuat website skandal yang berisi fitnah murahan, perselingkuhan dan seks. Dibuat seolah-olah menyerang dan memfitnah sang Cawapres. Padahal itu semua dibuat oleh tim mereka sendiri.

Sehingga jangan heran kalau tim kampanye Capres penculik dan pembunuh, serta Cawapres penipu dan licik itu tak pernah mau melaporkan web tersebut ke polisi. Karena memang itu orang-orang mereka sendiri. Sebaliknya, mereka terus memainkan peran seolah-olah didzolimi, difitnah dan sebagainya.

Justru yang peduli dengan web skandal tersebut dan meminta Menkominfo untuk segera menututpnya, adalah kelompok relawan dan tim kampanye Jokowi Amin.

Sinetron keenam, pengeroyokan kepada nenek-nenek tua. Dengan segala skenarionya, si nenek-nenek tua yang katanya vokal dan kritis itu diceritakan telah dikeroyok oleh 3 orang tak dikenal. Padahal kita tahu nenek tersebut sudah terlalu tua renta, yang tanpa dikeroyok pun dia sudah naudzubillah.

Tapi namanya juga sinetron, cerita pun dibuat meyakinkan. Semua elite partai pendukung Capres penculik dan pembunuh itu berbondong-bondong membenarkan. Memang terjadi pengeroyokan. Demi sebuah kekuasaan, semua kompak menipu masyarakat awam yang tak paham bedanya wajah dipukuli dan wajah pasca perawatan dan pengencangan kulit untuk orang-orang yang sudah tua renta.

Sinetron ini berhasil mengalahkan berita gempa tsunami di Palu, yang telah menewaskan ribuan korban jiwa. Berhasil membangun citra seolah-olah pemerintahan Jokowi semena-mena, relawannya anarkis, dan sebagainya. Sebagian orang yang beriman pada PKI akan berpikir bahwa ini adalah ulah PKI.

Masyarakat tak peduli dengan klarifikasi, penjelasan dan analisis. Yang mereka tahu muka si nenek tua itu hancur berantakan seperti kerupuk terinjak gajah. Apalagi hal ini dikuatkan dengan konpres, oleh Capres, Cawapres, dan seluruh elite partai politik di belakangnya yang kompak menganggap sinetron tersebut adalah nyata.

Kaget? Saya pribadi tidak. Toh sebelumnya si Capres juga pernah mengklaim bahwa cerita dalam novel fiksi Indonesia bubar 2030 sebagai sebuah penelitian dan jurnal ilmiah. Mereka sudah biasa melakukan itu. Mereka sudah biasa membohongi, menipu dan memprovokasi masyarakat dengan cara-cara licik seperti itu.

Semua sinetron dan skenario bohong-bohongan ini telah terjadi, dan ke depan kita akan menerima lebih banyak sinetron dan skenario lagi. Jika ada yang menganggap lebih buruk dari Pilpres 2014, iya. Tapi sebenarnya cara-cara mereka sama saja. Menggunakan seluruh sisi negatif dari Capres dan Cawapresnya, untuk dieksploitasi dan difitnahkan ke Jokowi Amin.

Pada Pilpres 2014, Jokowi difitnah cina, kafir, anti islam dan tidak bisa shalat. Dan semua yang difitnahkan ke Jokowi adalah fakta serta kelemahan dari si Capres duda. Lalu sekarang setelah bosan dengan cina, kafir dan sebagainya, mereka main fitnah baru. Tim kampanye mereka tahu betul kalau cerita pembunuhan dan penculikan yang pernah dilakukan oleh Capresnya, adalah point krusial yang membuat sang Capres kalah berkali-kali. Sehingga inilah yang terjadi sekarang, fitnah anarkis, penculikan dan pengeroyokan ditembakkan ke pemerintahan Jokowi dan relawan-relawannya.

Sebagai manusia, saya tak pernah terpikir akan ada sekelompok orang yang begitu kompak membuat propaganda seperti ini. Tapi faktanya inilah yang terjadi sekarang. Sehingga wajar kalau sekarang kita jadi bertanya-tanya, jika mereka melakukan segala propaganda ini hanya untuk sebuah kekuasaan, lantas pemerintah seburuk apa yang akan mereka bentuk? betapa suramnya Indonesia kalau sekumpulan manusia buruk ini berkuasa?

Sebagai penutup, saya jadi teringat dengan Abraham Lincoln. "Kamu bisa membohongi semua orang beberapa saat. Kamu bisa membohongi sebagian orang setiap saat. Tapi kamu tidak bisa membohongi semua orang setiap saat." Semoga kalimat ini masih relevan di Pilpres 2019. Begitulah kura-kura. #JokowiLagi

Tuesday, September 25, 2018

Bahan Renungan Politik dan Refleksi Musim Pilpres



POLITIK ITU DAGELAN  !!!

Jadi gini....
Pak Prabowo itu dulunya calon wapres pasangan Bu Mega pas pilpres 2009. Pak Fadli Zon itu juru kampanye Pak Jokowi dan Pak Ahok dgn baju kotak2nya di pilgub DKI 2012. Pak Anies itu tim sukses Jokowi-JK plus mantan Menteri Pendidikan.. sebelumnya Pak Anies juga peserta capres versi konvensi Partai Demokrat. sekarang nempel sama Pak Prabowo dan PKS.
Padahal dulu Pak Anies berkali-kali dituding Syiah oleh PKS.

Pak SBY itu mantan Menterinya Bu Mega.. maju nyapres bareng pak JK didukung Pak Surya Paloh.

Pilpres berikutnya giliran Pak JK nyapres bareng Pak Wiranto melawan Pak SBY dan Pak Boediono yg didukung Pak Aburizal Bakrie.
Lalu kemana Pak Aburizal Bakrie...??

Sekarang temanan sama Pak Prabowo yg dulu kompetitornya di pilpres 2009 dan lucunya teman dgn Bu Rachmawati yg notabene musuh besar pengusaha dan para militer. 🤣🤣

Masih ingat Pak Amien Rais...? Ini lebih unik lagi.. Menggulingkan Gus Dur sehingga Bu Mega naik padahal sebelumnya paling gak sudi Bu Mega jadi Presiden.
Dia berusaha keras agar ibu mega jadi Presiden.

Pilpres berikutnya dgn jargon guru & anak petani ngelawan Pak SBY dan Pak Prabowo di pilpres 2004 dan 2009. Sekarang Pak Amien Rais akrab dgn Pak Prabowo di kubu oposisi....!!
Padahal jaman 98 Pak Amien Rais ini target Letnan Jenderal Prabowo utk di aman kan.

Bagaimana dgn PKS...??
Semua juga udah tahu ceritanya.
Para kader gila²an  Campaign menjatuhkan Pak Prabowo di pilpres 2009 dan pilkada DKI 2012.
Lalu sekarang?? Berteman akrab ama Gerindra yg selama jaman Pak SBY adalah musuh bebuyutan.
Waktu itu PDIP & Gerindra oposisi, sementara PKS masuk koalisi di Satgab Pak SBY.

Siapa lagi ya ... ??
Hmm.

Jadi jangan kaget kalau²lah mana tahu besok Bang Jonru jadi pembela Pak Jokowi. Denny Siregar jadi pembela Pak Prabowo.
Nothing is Impossible !!!
Makanya hukum bermain politik itu
"if you know the rule of the game, just enjoy playing the game." 😜

Karena dalam alam politik ga ada kawan sejati, atau musuh abadi, yg ada cuma kepentingan abadi.

Mari kita yg rakyat biasa ini ingat selalu bahwa politik itu permainan yg dinamis. 
Maka jangan korbankan kawan, sahabat, sodara hanya karena berbeda pilihan politik. Ambil sikap yang wajar² ajalah..

Serta yang paling penting, jangan libatkan anak² kita dalam urusan pilihan politik..

Para kawula dewasa silahkan berdebat hebat dgn segala teori tapi biarkan anak-anak itu tumbuh dengan dunianya..
Dunia bermain dan bergembira tanpa peduli latar belakang suku, agama, ras dan antargolongan serta pilihan pilkada atau pilpres bapak ibunya..

Jangan wariskan generasi pendendam..
Berbeda pendapat itu wajar dalam alam demokrasi, yang jadi masalah ketika memaksakan kehendak kita dan menjelek²an.

Stop Bermusuhan karena Politik, Masyarakat hanya akan jadi budak alat kesejahtraan keluarga raja, siapapun pemenangnya 2019. Kita harus bisa legowo dan tidak menyimpan dendam dan sama membangun bangsa dan negara lewat tenaga dan pikiran.

Tetap teguh pegang politik yang bermartabat dan pegang terus moral politik,moral Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45, pegang terus NKRI Harga Mati.

Hanya mengutip sebuah kutipan.
Salam damai dan salam waras. 🙏

Tags