Latest News

Showing posts with label Ahok. Show all posts
Showing posts with label Ahok. Show all posts

Sunday, November 11, 2018

Ahok Pahlawan Zaman Now



Ahok Pahlawan Zaman Now

Oleh: Birgaldo Sinaga.

"Pak Ahok.. Bapak masih ingat saya. Saya Fahita", ujar perempuan berkulit putih itu di depan Balai Kota. Ia bersama ibunya sejak pagi menunggu Gubernur Ahok.  Ada puluhan orang antri pagi itu.

"Ingatlah... Ada apa.. Ayo kita ke dalam saja", sambut Ahok ramah.

Ajudan Ahok mengajak kedua ibu anak itu ke dalam ruang Ahok. Ahok masih melayani warga yang mengadu masalahnya.

"Bagaimana kabarnya", tanya Ahok sembari mempersilakan ibu anak itu menceritakan masalah hidup mereka.

"Pak Ahok kami punya masalah pelik.  Sudah 10 tahun tapi selalu kami dipermainkan Pak", ujar Fahita.

Keluarga Fahita punya kasus tanah.  Kasus itu masuk pengadilan. Dari pengadilan tingkat pertama sampai pengadilan tertinggi Mahkamah Agung, mereka menang. Kasusnya sudah berkekuatan hukum tetap. Inkracht.

Meskipun sudah berkekuatan hukum tetap, tetapi keluarga Fahita tidak bisa mengeksekusi tanah milik mereka. Ada saja penyangkalan dari aparatur.

Bolak-balik dipingpong sana sini.  Bahkan oleh jaksa kasusnya akan dibongkar kembali.

Ibu Fahita putus asa. Sudah cape memohon ke banyak pihak. Tapi mafia peradilan memang tembok raksasa yang sulit ditembus orang biasa seperti mereka.

"Ma.. Kita coba lapor Pak Ahok ya Ma.  Siapa tahu bisa dibantu", bujuk Fahita pada mamanya yang nampak lesu.

Fahita pertama kali bertemu Ahok pada suatu acara. Fahita bekerja di Asean Secretary. Saat itu hadir banyak tamu penting. Pejabat tinggi selevel menteri. Ahok sebagai Gubernur Jakarta juga hadir di acara itu. Ahok menjadi bintang undangan. Terutama para ibu-ibu.

Usai acara, puluhan ibu-ibu serempak mendekati Ahok. Minta foto selfie.  Ahok dengan sabar ramah melayani permintaan para ibu itu.

"Coba liat sudah bagus fotonya. Kalo belum coba lagi", ujar Ahok.

Ibu-ibu itu senang sekali. Semuanya dapat berfoto selfie dengan idola mereka. Sementara beberapa menteri yang hadir dicuekin para ibu ini.  Jadilah Ahok bintang di atas bintang di acara itu.

Saya mendengar penuturan Fahita kemarin malam dalam acara diskusi di Rumah Pelayan Rakyat Jaksel.  Kebetulan saya dan Fahita diundang sebagai narasumber. Temanya Ahok Sang Pahlawan Inspirasi.

Fahita seorang Harvist, pemain Harva.  Ia juga penulis. Pembicara. Ia lulusan sarjana luar negeri.

"Ini gak bener kalian ini. Saya gak mau tahu ya. Jika ini tidak selesai besok saya yang akan melawan. Ini mafia bener ini. Sudah inkracth apalagi yang kurang. Cepat besok harus selesai masalah Ibu ini", tegas Ahok di depan anak buahnya.

Fahita terdiam beberapa detik. Ia terlihat terharu saat menceritakan momen Ahok membela mereka.

Membela Ibunya yang sudah hampir putus asa. 10 tahun muter-muter soal kasus hukum. Tapi sama Ahok selesai dalam tempo 10 menit.

"Saya terharu sekali. Ibu saya apalagi.  Senang sekali rasanya. Lega. Plong", ucap Fahita disambut tepuk tangan audiens yang hadir di ruangan itu.

"Ahok adalah pahlawan sesungguhnya. Ia membela orang susah tanpa berharap pamrih. Tanpa peduli yang dilawannya adalah orang berpangkat juga", lanjut Fahita.

"Saya tidak habis pikir mengapa orang sebaik Ahok malah ditolak dan dipenjarakan. Tapi saya yakin cahaya Ahok tidak akan padam. Karena Ahok orang baik. Kita meneladani Ahok.

Untuk itu teruslah kita menjadi orang baik dan berbuat baik. Sekalipun kita ditolak dan dihujat. Ahok adalah inspirasi buat saya. Itulah mengapa saya mau bicara politik sekarang ini.

Ahok adalah pahlawan zaman now", tutup Fahita dengan ekspresi semua kami  terpukau akan kesaksian hidupnya.

Terimakasih adalah kata yang tak cukup untukmu Pak Ahok. Tapi bukan kata itu yang ingin engkau harapkan.  Kami tahu yang engkau inginkan adalah agar orang lemah bisa menjadi kuat,  orang melarat menjadi berkecukupan.

Kami akan meneruskan harapanmu seperti ayahmu mengharapkan engkau menolong orang miskin dan susah. Tidak mudah punya karakter sekeras baja sepertimu. Tapi agar negeri ini berubah memang sejatinya harus seperti engkau pejabat negara.

Berpihak pada rakyat dan tidak mau mencuri uang rakyat. Meskipun banyak musuh dan lawan siap menumbangkan.

Terimakasih atas teladan emas itu.

Selamat Hari Pahlawan Pak Ahok... Engkaulah Pahlawan kami sesungguhnya...

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga

Friday, August 24, 2018

Ahok menanam benih keberanian mengajukan Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games.



Ahok Menanam, Jokowi Menyiram, Rakyat Indonesia Menuai

Pembukaan Asian Games 2018 telah mengangkat nama bangsa dan negara ke level kelas dunia. Dunia memuji Indonesia. Semua mata dunia melihat gawean Asian Games 2018 itu naik kelas selevel Olimpiade.

Bagaimana bisa Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018?

Pada 2014, Ahok mengajukan diri Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games 2018. Di Incheon Korsel, Ahok menerima bendera Asian Games setelah komite Asian Games menyetujui Jakarta sebagai tuan rumah 2018.

Ahok menanam benih keberanian mengajukan Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games.

Komite Asian Games memberikan kepercayaan pada Ahok sebagai gubernur yang mampu membangun fasilitas olahraga sesuai standar dunia.

Ahok bersama sohibnya Jokowi ngebut siang malam membangun Velodrome melebihi standar Internasional. Semua fasilitas olahraga dan fasilitas pendukung seperti LRT, MRT di gesa demi kebanggaan sebagai bangsa yang besar. Indonesia pasti bisa. Fasilitas GBK dipercantik dengan serius. GBK jadi stadion megah.

Apa yang ditanam Ahok 2014 lalu kini dituai dan dipetik dengan manis oleh rakyat Indonesia.

Dari balik jeruji besi Mako Brimob, sayup-sayup Ahok mendengar sorak membahana nama sahabatnya Jo..ko..wi..Jo..ko..wi..Jo..ko..wi

Ada yang menanam, ada yang menyiram, ada yang menuai.
Ahok telah menanam dengan cinta,  Jokowi menyiramnya dengan cinta. Dan kita seluruh rakyat Indonesia menuai hasil kebanggaan sebagai bangsa yang besar, terhormat dan terpuji. Dipuji dunia. Dibicarakan dunia.

Terimakasih Koh Ahok atas keberanian dan kepercayaan dirimu mengajukan Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games 2018 pada 2014 lalu.

Kini rakyat Indonesia punya kehormatan dan kebanggaan sejajar dengan negara maju lainnya di dunia.

Salam perubahan penuh cinta

Birgaldo Sinaga

Thursday, August 16, 2018

Ahok Bercahaya, Dukung Jokowi-Ma’ruf, Luhut Habisi Provokator



Ahok Bercahaya, Dukung Jokowi-Ma’ruf, Luhut Habisi Provokator

Ribuan provokator di kubu lawan sedang bergerak. Pendukung Ahok vs Jokowi kini sedang diadu. Tujuan provokator hanya dua: membenci Jokowi atau menjadi Golput. Wacana Golput pun menyeruak dimana-mana. Kekecewaan para pendukung Ahok kepada Jokowi, terus dibakar di segala tempat.

Tindakan Ma’aruf Amin yang memvonis Ahok telah menghina Al-Quran dan Ulama, diangkat tinggi-tinggi. Masa lalu Ma’aruf Amin vs Ahok dimunculkan secara membabi-buta. Narasi permusuhan dibangun dengan menolak lupa.

Ma’ruf adalah aktor utama yang menghabisi Ahok. Dipicu fatwanya, demo menggelenggar, mengguncang DKI akhir 2016 hingga awal tahun 2017. Perjuangan Ahok semakin berat, ketika Ma’ruf datang di pengadilan dan memberi kesaksian memberatkan kepada Ahok.

Lewat demo bergelombang, para penegak hukum ditekan habis-habisan. Hasilnya, Ahok menjadi tersangka. Politisasi ayat dan mayat kemudian terjadi secara masif. Jakarta menjadi kota SARA paling mengerikan.

Ahok pun akhirnya kalah menyakitkan dari Pillgub DKI. Tidak cukup sampai di situ, Ahokpun masuk penjara. Di penjara Ahok diterpa badai dahsyat. Isterinya satu-satunya dan belahan jiwanya, Veronika, selingkuh tak terkendali. Ahok sudah jatuh, tertimpa tangga pula dan terjerembab.

Para provokator tak berhenti. Tensi politik dimanfaatkan secara licik. Cerah dan ruang-ruang fitnah disusupi. Narasi kebencian, kedengkian dan dendam kesumat dibangun. Sakit dan dendam Ahok diungkit kembali. Para provokator ikut menyamar sebagai pendukung Ahok. Ada juga yang menyamar sebagai pendukung Jokowi. Mereka sesuara berbalik menyerang Jokowi dan Ma’ruf. Gaung suara mereka bulat: menjadi Golput.

Para provokator dengan liar dan licik memanfaatkan keterbatasan Ahok di penjara. Ahok jelas tak bisa berbicara langsung dengan media. Pun dia tidak bisa menulis status di facebook atau di twitternya. Jika ia menulis surat, maka para provokator dengan mudah mengeditnya. Hoax akan menghujani ruang publik.

Melihat pergerakan para provokator yang luar biasa, Luhut B. Panjaitan, sekaligus Menkopolhukam, langsung turun tangan. Ia bertemu dengan Ahok di penjara. Kepada Luhut, Ahok menegaskan bahwa ia mendukung duet Jokowi-Ma’aruf. Bahkan Ahok ingin masuk menjadi bagian tim kampanye Jokowi-Ma’aruf.

Pernyataan Luhut itu, langsung membuat para provokator lari terbirit-birit. Luhut terus mengambil kendali. Ia bergerilya ke sana ke mari mengumandangkan dukungan Ahok kepada Jokowi-ma’ruf. Luhut terus membungkam provokator dengan membongkar skenario jahat adu-domba mereka.

Ternyata Ahok di penjara telah sedang mengkuliti jati dirinya. Ia bukanlah seorang pendendam. Ia justru mengampuni musuhnya. Dan bukti pengampunan itu, ia kumandangkan lewat dukungan kepada Jokowi dan bekas musuhnya Ma’aruf Amin. Inilah cahaya Ahok yang luar biasa.

Para pendukung Ahok kini dengan cepat kembali sadar telah diprovokasi. Tulisan-tulisan status di sosmed yang mengajak Golput semakin mengecil. Para pendukung Ahok dan Jokowi kembali satu suara. Demi NKRI, demi negara tercinta berlandaskan Pancasila, perpecahan harus dihindarkan. Suara bulat: mendukung Jokowi-Ma’ruf menjadi Presiden dan wakil Presiden Republik Indonesia 2019-2024.

Ahok Bercahaya

Dukungan Ahok kepada Jokowi-Ma’ruf lahir dari imannya yang kuat. Mengampuni musuh adalah perkara yang berat bagi seorang manusia. Tetapi Ahok telah melompati fase itu. Di penjara, ia telah menguliti jati dirinya.

Ahok dengan ikhlas mampu mengampuni musuhnya. Dendam adalah masa lalu yang terus-menerus menggerogoti jiwa. Mengampuni adalah energi super untuk membangun pernik hidup masa depan. Itulah sebabnya seberapa besar keimanan seseorang, bisa dilihat seberapa mampu dirinya mengampuni orang lain.

Ahok sesuai dengan namanya, Basuki Cahaya Purnama, bercahaya dimana pun ia berada. Kendatipun di penjara, Ahok dengan cahayanya masih bisa memberikan motivasi kepada semua orang. Insting manusianya sebagai manusia pekerja, masih bisa menghasilkan uang.

Di penjara, Ahok mampu menulis dan menjual buku. Hasil penjualan buku itu yang mencapai Rp 2 miliar, ia salurkan membangun ekonomi di sekitar penjara dan mensubsidi beberapa keluarga di luar penjara. Luar biasa.

Ahok sebetulnya bukanlah sosok istimewa. Ia adalah manusia biasa, sama seperti kita. Ahok bukanlah nabi, bukan santo, bukan malaikat apalagi Tuhan seperti yang disematkan oleh para penentangnya. Lalu dimana letak perbedaannya dengan manusia lain? Perbedaannya terletak pada penghayatan imannya. Ahok beriman dengan kata dan perbuatan. Sesederhana itu.

Cahaya kecil Ahok itu tentu saja menjadi sangat berharga dan bernilai tinggi di tengah pekatnya kegelapan malam politik kotor dan keji. Cahaya itu menjadi terang, menerobos kemana-mana mengikuti arah jalan Ahok kemanapun ia pergi. Ia tetap bertahan dan mengibarkan cahayanya.

Cahaya kecil Ahok itu anomali (menyimpang dari kebiasaan). Ia hadir di tengah-tengah kaum beragama yang berperilaku munafikin dan mengembalikan nilai-nilai yang sebenarnya menjadi nilai dasar orang beragama, yaitu keadilan sosial.

Ketika, Ahok masih gubernur, cahaya Ahok cahaya Ahok menyentak para pejabat di republik ini. Jabatan bagi Ahok adalah sebuah kesempatan untuk menegakkan peraturan, melawan para maling, preman, mengambil kembali tanah negara, memberantas tanpa takut para tikus-tikus anggaran, dan seterusnya. Ahok menggunakan cahaya jabatannya untuk memajukan negeri ini dan membangun keadilan sosial.

Tidak lama lagi Ahok akan keluar dari penjara. Sepak terjangnya dan kritik pedasnya kembali menjadi konsumsi publik. Di dalam penjara saja, ia masih ditakuti apalagi saat keluar dari penjara. Nama Ahok memang telah menjadi momok menakutkan bagi para koruptor, kaum beragama munafikin, para mafia dan maling anggaran.

Ketika Ahok dengan tegas mengumandangkan dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf, para provokator diam tak berkutik. Para pendukungnya kini kembali sadar dan mengedepankan masa depan bangsa dan negaranya. Begitulah kura-kura.

Salam Seword, Asaaro Lahagu
By Asaaro Lahagu
August 12, 2018 - wa bmrk

Friday, July 6, 2018

SUSAH EMANG JADI GUBERNUR GANTIIN AHOK



SUSAH EMANG JADI GUBERNUR GANTIIN AHOK.. 🤗

Jadi Gubernur gantiin Ahok itu emang susah..
Seperti habis nonton serunya konser musik Metallica dengan gemerlapnya lighting dan dentuman sound system kapasitas besar ditambah performance dan skill musik yang mengagumkan...
Habis itu jongkok di konser dangdut kampung sebelah dengan penyanyi wanita tiga orang yang dandanannya diseksi2kan karena suara pas2an dengan MC yang selalu teriak, "Kita sambuuuttttt orkes melayuuu... Soodetaaa.." Toenggg ! Senar gitarnya putus..
Dari karya aja sudah jauh beda..
Ahok berhasil membangun simpang susun Semanggi yang megah dengan dana 360 milyar rupiah, tanpa keluar uang sepersenpun. Bayangkan..
Dia cukup meminta sebuah perusahaan asing membayar kompensasi atas kelebihan ruang bangunannya bukan dalam bentuk uang, tapi bentuk jalan. Supaya warga Jakarta bisa menikmatinya.
Padahal kalau Ahok mau ngantongin uang itu sendiri, wah bisa kaya gumaya dia. Paling disisain dikit buat ormas yang kelaparan supaya mereka diam. "Berisik aja lu, pake demo2 segala. Noh duit, mingkem !!"
Ormas senyum lebar, "Makasih koh, ente baek sekali. Ente otomatis masuk surga dengan ijin ana.." kipas2 duit.
Lha, yang gantiin ini sibuk dengan segala ide dan cara bagaimana menghabiskan uang rakyat kalau bisa. "Supaya anggaran terserap.." Katanya. Kayak pembalut aja menyerap..
Walhasil, jadilah "MahaKarya" berupa pohon plastik dengan nilai fantastis 8 miliar rupiah dan gak jadi dipasang karena, "Malu ma warga.."
Malu sih malu, tapi 8 miliar rupiah terlanjur keluar sia-sia untuk sesuatu yang gunanya aja gak ada. "Supaya Jakarta cantik.." Katanya.
Kalau hanya ingin kota cantik, kenapa gak masing2 gedung di Jakarta disuruh menghias halaman depannya dengan lampu warna-warni ? Kan jadi tidak keluar biaya ?
Disitulah bedanya pemain "kelas yang mendapat pengakuan Internasional" dan pemain "kelas yang jalan-jalan mencari pengakuan Internasional"..
Ibaratnya kalau nonton kerja Ahok, kita seperti disuguhkan film Hollywood kelas A dengan judul "Titanic" di bioskop megah dan AC yang sangat dingin.
Habis itu nonton film di bioskop kecil dengan tiket seharga 7 ribu plus autan supaya gak digigit nyamuk dengan judul film "Guna guna istri muda..."
Pas lagi nonton di belakang ada yang nyolek, "mau jurus bangau atau jurus lintah ? Kalau bangau cukup tangan aja, kalau lintah pake lidah.."
Jiahhhhh....

Denny Siregar

Hope?

Mungkin kamu bahagia waktu kepemimpinan DKI berganti. Jakarta akan lebih tertata bersih indah islami. Gubernurnya seiman membanggakan. Transparansi anggaran dan pembangunan meningkat. Warga lebih mendapat pelayanan maksimal dari aparat. Akhlak sang pemimpin menjadi cermin, teladan mulia bagi siapa saja.

Waktu pun bergulir... Dan banyak orang mulai berfikir. Dimanakah hubungan kampanye tentang pahala dan dosa dalam sebuah pilkada? Kini saat secawan anggur direguk yang terpilih di kursi empuk, para pemilih bertanya2 angin surga yang mana yang bisa nyata hembusannya. Ketika harapan jadi kebalikan, barulah terasa semua ada palsu2nya...

👉Anggaran DPRD DKI naik 10 kali: 
zaman Ahok Rp 8,8 milyar menjadi ➡Rp 107,7 milyar. 
👉Reses DPRD:  
Masa Ahok Rp 34,96 miliar sekarang ➡Rp 69,3 miliar. 
👉Pembahasan Pansus dan Lainnya: 
Masa Ahok Rp 2,29 miliar, kini ➡Rp 29,25 miliar.    
👉Pembahasan Banggar : 
Rp 4,23 miliar menjadi ➡Rp 16,2 miliar. 
👉Bamus : 
Masa Ahok Rp 3,64 miliar, menjadi ➡Rp 15,24 miliar. 
👉Pengelolaan website DPRD: 
Zaman Ahok Rp 31 juta , kini ➡Rp 571 juta.

Setelah membaca data ini, kita melihat sesuatu... melambung jauh, terbang tinggi bersama mimpi. Terlelap dalam lautan emosi... (knp Anggun C. Sasmi resmi pindah kewarganegaraan? Mungkin dia illfeel menemukan sendiri apa yang semula cuma dalam nyanyian)😂

Inilah tanda2 bagi orang yang berakal. Org Jkt mesti baca, orang Indonesia harus berkaca. Jangan asal percaya isu normatif politik berjubah agama. Lihat visi misi dan kapasitas yang terukur. Kalau tidak, semua akan rugi sendiri karena hanya dijadikan alat semata, bukan tujuan utama.
😳😴

Nisa Alwis

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10212320172423945&id=1368243024

Deny Siregar menulis ttg AHOK pada HUTnya



Deny Siregar menulis ttg AHOK pada HUTnya

Malam ini saya ingin mengingat kembali bahwa Indonesia pernah punya seorang pemberani..
Kita memanggilnya Ahok. Panggilan yang menandakan rasnya yang berasal dari Tionghoa. Dia adalah perwakilan dari banyak ras Tionghoa, yang tersingkir dalam gegap gempitanya politik di negeri ini.
Ahok adalah "Orang yang tepat, di tempat yang tepat, tetapi berada di waktu yang salah". Kemunculan Ahok dalam peta politik, mendobrak banyak tatanan salah yang selama ini sudah menjadi budaya. Birokrasi dia pampatkan. Korupsi dia singkirkan. Dan cara dia memperlakukan pemerintahan dengan gaya seorang Pengusaha, membuat banyak penghematan terjadi pada uang rakyat yang selama ini selalu dikebiri oleh oknum-oknum berdasi.
Menakjubkan melihat Ahok memporak-porandakan banyak perselingkuhan yang terjadi pada ibukota negara ini. Dia bongkar habis cara-cara lama saat penyusunan anggaran yang selama ini sering bocor entah kemana. Dia bangun sistem yang rapih dan terawasi sehingga sulit sekali untuk mencuri.

Banyak yang tiba2 miskin ketika Ahok berkuasa. Para Abdi Negara. Para Anggota Dewan. Para Rekanan Pemda. Semua mendadak kering kerontang dan tidak lagi berada di tempat basah. Ahok memutus jaringan mereka sampai ke akar-akarnya dalam waktu yang sangat singkat.
Ia juga menjadikan Balaikota bukan lagi kahyangan yang hanya dihuni dewa-dewa. Ia duduk mendengarkan orang susah bercerita tentang masalahnya. Ia menuntaskan masalah secepat seorang Samurai menghunus katana. Ia membangun banyak hal untuk orang miskin mulai rusun sampai pengobatan yang bisa mereka dapatkan. Ia adalah superhero bagi mereka yang sulit mendapat keadilan.
Kalijodo adalah salah satu karya besarnya. Lokalisasi lama yang dulu menjadi sarang serigala, buaya sampai anakonda, ia hancurkan. Tempat yang dulu menyeramkan dan menjadi sarang narkoba ia runtuhkan. Berubah menjadi taman publik yang menyenangkan. Semua itu dengan ia lakukan dengan tangan besi.
"Saya tidak perduli bapak ibu tidak memilih saya kembali", katanya. "Karena saya menjunjung tinggi keadilan sosial di Jakarta. Yang saya ingin bapak ibu mendapatkan haknya."
Sebuah pernyataan yang menandakan bahwa jabatan bukan segalanya. Tapi apa yang dilakukan saat menjabat, itulah yang utama.

Mungkin kesalahan terbesar Ahok adalah ia mengumpulkan banyak musuh dalam waktu yang sama. Mulai anjing, babi, sampai biawak memusuhinya. Kenyamanan yang selama ini mereka dapatkan, terusik dengan kehadirannya. Sehingga mereka rapat bersama di tengah hutan belantara bersama hyena, musang sampai ular sawah. Topik mereka, "Bagaimana menjatuhkan si durjana ?"
Tetapi Ahok adalah seekor singa. Ia tidak perduli. Ia mengaum menggetarkan banyak telinga yang diam-diam memendam benci padanya. Bukan. Bukan mereka yang benci saja yang ingin menyingkirkannya. Tetapi juga Pengusaha-Pengusaha besar oportunis yang sama rasnya. Mereka yang merasa terjepit dengan batas-batas yang dibangun Ahok, dan tidak lagi leluasa seenaknya.
"Pemahaman nenek lu !" Teriak Ahok. Ketika ia menerima rancangan anggaran yang jelas-jelas menipu dengan bahasa "kita sudah saling paham", ia menyalak sekeras-kerasnya. Ia tidak mampu menyembunyikan ketidak-sukaannya terhadap gaya munafik yang selama ini dipertontonkan di depan publik. Ia meradang jika ada maling yang berlagak teman seiring. Ia terlalu terbuka, terlalu mudah diserang dari banyak arah.
Lalu, didapatlah titik lemahnya. Yaitu lidahnya yang selalu menyala..
Dengan satu kata saja, "jangan mau dibohongi PAKE Al Maidah.." bergeraklah semua mahluk hutan yang selama ini resah karenanya.
"Penista agama !" Teriak mereka yang merasa sudah pasti mendapat hak di surga. Dan tanpa sadar mereka membela keyakinan mereka yang merasa dihina dengan yel yel, "Bunuh bunuh, bunuh si Ahok.. Bunuh si Ahok sekarang juga."
Gelombang tsunami datanglah, semakin lama semakin besar. Hilang semua karya dan pengabdian Ahok dalam sekejap mata. Setetes nila merusakkan susu sebelanga. Ayat dan mayat keluar tanpa malu dengan konsep membela agama. Entah mana sebenarnya sang penista karena semua mendadak menjadi penista sesungguhnya.
Dan mereka menang. Ahok kalah dan masuk penjara...

Meski begitu, ia tetap membawa kehormatannya. Ia hadir di persidangan tanpa rasa takut dan kepala tegak berwibawa. Hati yang remuk redam pun disembunyikannnya. Meski akhirnya jebol juga pertahanan dan keluarlah setitik airmatanya.
"Kalaupun saya mati demi memperjuangkan kebenaran dan menegakkan keadilan, kalian tidak akan pernah bisa membeli cara mati saya.. " begitu tekadnya. Dan hancurlah pertahanan terakhirnya..
Matinya keadilan di Indonesia diperingati dengan nyala lilin dimana-mana. Inilah perayaan kematian terbesar di Indonesia. Sebuah momen yang tidak akan pernah hilang dalam benak, bahwa "Pernah ada seorang pejuang di negeri ini dan ia kalah oleh tekanan ruang sidang yang merasa sudah menjadi wakil dari keadilan Tuhan.."
Ahok kalah. Fisiknya terpenjara. Tetapi spiritnya menyebar kemana-mana. Spirit yang muncul di dada anak anak muda, yang satu waktu akan membawa ideologi Ahok kemanapun ia berada dan berjuang tanpa rasa takut untuk kebaikan negaranya.
Ahok adalah bagian dari bab pelajaran Tuhan yang dikirim kepada manusia Indonesia, bahwa "tidak pernah akan berubah nasib suatu bangsa, tanpa bangsa itu sendiri yang mengubahnya.."
Dan sekarang adalah hari ulang tahun ke 52 nya.
Selamat ulang tahun, Ahok. Semoga sehat selalu dan terus berkarya untuk negeri tercinta. Suatu saat kita akan duduk dan ngopi bersama, sambil bercerita tentang nikmatnya perjuangan yang kita lalui dalam suka dan duka.
Salam hormat dari saya, seorang pengagum dari nilai-nilai yang engkau tularkan kepada sesama.

Denny Siregar

Tags